
“kenapa?”
Alunan suara lembut menyadarkan saya atas lamunan yang sedari tadi memberikan visual tidak jelas dilayar buram dalam mata. Suara lembut seorang wanita yang selalu membuat saya merindukan tempat yang disebut rumah. Latar waktu siang hari, lengkap dengan lesunya sinar matahari menciptakan ilustrasi hangatnya kerutan di kening ibu saya yang sedari tadi ternyata memperhatikan badan tanpa roh dan tanpa suara. Tampaknya bukan mengkhawatirkan saya, tapi lebih pada status saya yang saat itu berperan sebagai supir hehehe..
September, Denpasar, kebetulan saat itu sehari setelah saya mendapatkan undangan sebagai pembicara di bekas kampus tercinta. Menjadi bagian dalam sebuah acara, apalagi berdiri didepan banyak orang, sok berorasi dan berbagi tentang sesuatu yang saya ketahui dan pernah alami adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tapi tidak untuk kali ini..
Mengunjungi beberapa tempat, bertemu dengan banyak orang, bertukar pikiran tentang banyak hal, dengan banyak kepala, dengan banyak kerangka dan pola pikir, dengan berbagai jenis manusia, dengan bermacam peristiwa, membuat saya semakin menyadari bahwa semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Menjadi sebuah lingkaran, menjadi sebuah tulisan bersambung, menjadi bab pengantar menuju bab lainnya, menjadi pintu koneksi ke ruang yang sebelumnya tidak pernah kita duga.
Kembali ke lamunan tadi, ada batu besar yang sebenarnya mengganjal bagi saya. Beberapa teman pernah berkata sebagai idealisme, tapi saya tidak yakin kalo itu adalah kosa kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Atau malah seorang kepala sekolah yang berjasa memborbardir kepala saya saat masih berseragam putih abu menyebut sifat saya dengan judul idealisme mati konyol.
Beri saya sedikit sisa paragraf lagi untuk mendeskripsikannya secara lebih konkret.
Jika berbicara dalam sudut manajemen, atau marketing, ada istilah yang bernama “product life cycle” yang secara garis besar, menyebutkan bahwa setiap merek, atau setiap produk memiliki siklus umur hidupnya. Dari awalnya launching, kemudian berkembang, mengalami masa jayanya atau fase laris manis, dan kemudian akan mengalami masa penurunan. Dan biasanya, para marketer yang menyadari hal ini pastinya akan melakukan sesuatu untuk memperpanjang masa hidup produknya. Mulai dari strategi promosi atau menciptakan diversifikasi dan product extension atau malah melakukan peremajaan merek.
Bagaimana dengan hidup manusia?
Mari kita tarik secara umum gambaran dan paradigma kita saat ini. Jika boleh dan bisa saya simpulkan, life cycle pada manusia adalah sebagai berikut: lahir, sekolah, bekerja, menikah, beranak pinak, pensiun, mati.
Thats it? Yup, thats it. Tentunya dengan berbagai macam bumbu dan cerita didalamnya. Ada yang salah? Tidak! Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi mari kita cermati. Alur yang seperti ini sudah turun temurun diajarkan, atau kalo boleh saya menyebut; di-propaganda oleh generasi yang lahir sebelum kita. “nak sekolah yang tinggi, biar bisa dapet kerjaan ditempat yang bagus, gaji gede, hidup enak, diliat calon mertua biar ga malu, bisa ngidupin pasangan hidup kamu..dan bla..bla..”
Jika ditarik lebih panjang lagi, kita sedang bergumul dalam sebuah kotak, sebuah lingkaran, sebuah batasan yang tidak bisa dilanggar, tidak boleh dilewati, dan tidak boleh ditembus karena ada pagar bernama “normal” yang dilapisi duri berstempel “kewajaran” disana.
Ada seorang kawan yang terpaksa meninggalkan impiannya untuk menjadi rocker karena orang tuanya sudah bosan melihat bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah menghasilkan uang. Membuat saya bertanya, uang bukan segalanya, tapi tanpa uang kita bukan apa-apa. Belum lagi kotak sensitive bernama SARA yang menjadi tembok pembatas bagi seorang saudara untuk mematikan rasa sayangnya kepada mahluk beda kelamin yang menjadi peneman di masa mudanya. Menciptakan pertanyaan besar dikepala saya, apa artinya tulisan bhineka tunggal ika yang tergantung di kaki patung garuda yang bergelantungan gagah di depan kelas sedari SD dulu. Ada lagi, kejadian seorang sahabat yang diusir oleh orang tua gadis yang dikencaninya akibat status ekonomi dan sosial yang timpang yang membuat saya meyakini alasan kenapa banyak orang menyukai film-film bioskop karena happy ending hanya bisa terjadi dalam film. Atau cerita tentang seorang kenalan yang membunuh mimpinya menjelajah dunia karena kewajiban sebagai seorang lelaki tunggal dalam keluarganya, menuliskan keraguan dalam pemikiran saya bahwa terkadang kebebasan bukanlah sebuah pilihan.
Pemikiran yang klise mungkin. Karena hanya akan kembali menimbulkan pertanyaan lainnya; apa yang sebenarnya kita cari? Kehidupan sesuai dengan rumus baku “human life cycle”..??? atau mungkin secara iseng, kita bisa mulai mengganti pertanyaannya menjadi; “apa yang bisa membuat saya bahagia?”
Tapi sayangnya, kadar bahagia menjadi sebuah ukuran yang tidak bisa distandarisasikan. Atau malah, karena tidak ada standar yang baku terhadap kebahagian manusia yang satu dengan yang lainnya itulah, maka dapat digunakan sebagai dasar dan pondasi bahwa kita memang tidak sama. Bahwa customize, menjadi berbeda, tidak biasa, adalah variabel yang dapat dipertimbangkan sebagai alat ukur yang wajar dan biasa. Dimana menjadi berbeda adalah hal yang biasa, dimana memilih hal-hal diluar pakem adalah sebuah kewajaran, dimana berjalan pada jalur yang tidak normal adalah sebuah kebebasan untuk menjadi bebas.
...
Dan sebelum tulisan klise dan tidak bermutu ini menjadi semakin buram dan mengambang, ada baiknya saya tutup dengan pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada beberapa orang yang pernah saya temui; “apakah anda bahagia? Apakah anda sudah puas dengan kehidupan anda saat ini?” Tidak banyak yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan spontan. Terutama ketika saya bertanya kepada seorang lelaki didepan cermin.






























