"...if history teaching us one thing; even the most powerful man can be betrayed by those they trusted most. the reason is duplicity of human nature..."

-because I write sins, not crimes-

Jumat, 06 April 2012

MARCH PROJECT (GET LOST 2012)

Rencana awalnya adalah Nusa Lembongan dan Gili Trawangan. Dua nama tempat tersebut sudah kami setting mulai dari awal tahun 2012. Namun apa daya, pada saat hari keberangkatan, pelabuhan masih ditutup akibat dari badai yang sudah berlangsung selama 3 hari sebelumnya. Dengan rasa tidak yakin, kami tetap berangkat menuju pelabuhan sembari berharap bahwa hari ini pelabuhan sudah dibuka. Ternyata, harapan kami tidak menjadi nyata!

Sudah 4 tahun berlalu semenjak trip kami yang pertama (cerita trip yang pertama dapat dibaca disini). Padahal waktu itu, melakukan trip seperti ini rencananya akan kami jadikan agenda rutin tahunan, namun sayangnya selalu saja ada kendala, dan tiba-tiba tersadar bahwa 4 tahun sudah lewat. Ternyata “waktu” memang tidak pernah mau menunggu kami yang sedang sibuk mencari jalan untuk berkumpul kembali.

...

Tempat persinggahan pertama untuk berkumpul adalah tempat makan bernama “Mertha Sari”. Tempat tersebut terletak di desa Pesinggahan – Klungkung. Kurang lebih perjalanan 1 jam dari Denpasar. Yang menarik dari tempat ini adalah sate ikan dan sambal-nya. Saking maknyus-nya, banyak orang-orang dari kota yang sengaja menempuh perjalanan hanya untuk menyantap menu laut dan es kelapa muda. Suasana tempat yang bernuansa pedesaan dan jauh dari lalu-lalang kendaraan juga menjadi point plus dari tempat ini.

Puas menyantap makanan, kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan. Sepanjang jalan, kurang lebih mulai 5km sebelum pelabuhan, sudah terlihat truk-truk pengantar barang mesti pasrah “nongkrong” dipinggir jalan menunggu pelabuhan yang tak juga kunjung dibuka hari itu. Membuat kami memutuskan untuk membelokkan paksa tujuan. Keputusan pertama adalah: Sand White Beach (penduduk lokal sering menyingkatnya menjadi: "Sandwich"). Mencapai tempat ini sebenarnya tidaklah begitu sulit, hanya saja karena pada waktu kami datang akses jalan menuju pantai sedang mengalami perbaikan, jadi kami harus berjalan kurang lebih sekitar 400meter menuruni bukit dan masuk hutan untuk mencapai pantai. Hasilnya? Okay, coba bayangkan: pasirnya selembut pasir putih pantai Dreamland, tebing disisi pantainya sekeren pantai Padang-padang, dan aliran airnya setenang pantai Sanur! Then ga pake lama, kami telanjangi mata untuk menyetubuhi semua perpaduan warna biru, putih, hijau, dan jingga yang ada disana. We’d got some cold beer, lying on the beach, even sunset buried our dream, but we just don’t care!

( Sand White Beach --> "Sandwich" )

Saya masih belum puas memandangi laut, menikmati pasir pantai yang mengelitiki kaki, dan mendengar deburan ombak pelan seperti membisiki suara-suara yang sudah lama hilang, namun apa daya ketika kawan-kawan juga yang memaksa untuk mengakhiri momen melakolis tersebut karena kami belum mencari penginapan.

Kembali ke bilangan resort, hotel, dan homestay sekitaran Candi Dasa, setelah kurang lebih 2 jam keluar masuk hotel, pilihan kami jatuh pada Resort Prima Candi Dasa. Resort ini menawarkan lokasi yang memiliki akses langsung ke pantai. Kamar hotel yang luas dan bersih, serta kolam renang yang berdekatan dengan kamar membuat kami jatuh cinta pada tempat ini. Sekedar saran pribadi: saya sangat merekomendasikan tempat ini untuk para pembaca yang sedang merencanakan honeymoon ataupun yang sedang mencari tempat menenangkan diri ditengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan. Kalo tertarik, Resort Prima Candi Dasa bisa dihubungi di nomer: (0363)41373, harga terjangkau, tempat strategis, pelayanan juga ramah (bukan promosi, tapi cuma sekedar berbagi hehehe..)

...

Hari ke-2, perjalanan kami lanjutkan ke Amed (kami semua benar-benar belum tahu ada tempat yang berjudul Amed sebelumnya). Dalam perjalanan menuju Amed, kami sempatkan untuk kembali mengunjungi beberapa destinasi wisata yang sudah lama tidak pernah kami kunjungi, seperti Tirta Gangga (saya terakhir kali mengunjungi tempat ini ketika masih SD), dan Taman Ujung. Adalah Kesa yang berperan sebagai navigator menuju Amed yang memutuskan untuk mengambil rute pinggir pantai. Walaupun jaraknya lebih jauh karena memutar dan naik turun bukit, namun pemandangan yang disajikan berkali-kali membuat kami bersyukur kepada Tuhan bahwa kami masih hidup sampai detik ini dan diberikan sepasang mata sempurna untuk melihat cantiknya alam yang tersaji disana!

( View Menuju Amed )

Sekitar 3 jam menempuh perjalanan menuju Amed, kami langsung meluncur ke hotel yang direkomendasikan oleh salah satu kenalan. Hotel 11 (baca: Double One) menjadi tempat mendarat kami sore itu. Hotel ini juga memiliki akses langsung ke pantai dan juga kolam renang yang terletak dipinggir pantai. Pantai Amed bukanlah pantai dengan pasir putih. Pantai Amed lebih terkenal karena wisata bawah laut-nya. Selain itu, kehidupan masyarakat disekitarnya juga masih sangat tradisional. Jadi jangan harap bakal menemukan cafe-cafe 24 jam yang tiap malam menyuguhi live band atau accoustic. Di Amed, para tamu lebih mementingkan ketenangan. Panorama alam yang memadukan bukit, tebing, dan pantai, ditambah dengan suasana lingkungan tradisional benar-benar menjadi perpaduan obat penjernih kepala dan penghilang ingatan! Bagus juga buat orang-orang yang lagi patah hati untuk nyembuhin diri disini hahaha...

Secara overall, kami benar-benar menikmati malam itu untuk berbagi cerita. Ditemani arak, hujan, dan suara deburan ombak di pantai yang masih terdengar menembus pintu kamar, semua cerita yang hilang selama 4 tahun ini kembali berputar liar dikepala membuat kami tersadar bahwa masa remaja sudah berlalu dan tidak akan pernah terulang lagi! Meskipun berat hati mengakhiri hari, tapi apa daya, begitu pagi tiba, kami harus segera berkemas untuk kembali ke kehidupan nyata di kota sana. Melaju diatas dua roda, masing-masing dari kami pastinya berharap bahwa ini bukan untuk yang terakhir kali.

Semoga!

( pose at Sand White Beach )

( Amed rendezvous )

( armada tempur kami selama 3 hari 2 malam )

( the last day of March Project )

Sabtu, 26 November 2011

SEFIROT


kenapa?

Alunan suara lembut menyadarkan saya atas lamunan yang sedari tadi memberikan visual tidak jelas dilayar buram dalam mata. Suara lembut seorang wanita yang selalu membuat saya merindukan tempat yang disebut rumah. Latar waktu siang hari, lengkap dengan lesunya sinar matahari menciptakan ilustrasi hangatnya kerutan di kening ibu saya yang sedari tadi ternyata memperhatikan badan tanpa roh dan tanpa suara. Tampaknya bukan mengkhawatirkan saya, tapi lebih pada status saya yang saat itu berperan sebagai supir hehehe..

September, Denpasar, kebetulan saat itu sehari setelah saya mendapatkan undangan sebagai pembicara di bekas kampus tercinta. Menjadi bagian dalam sebuah acara, apalagi berdiri didepan banyak orang, sok berorasi dan berbagi tentang sesuatu yang saya ketahui dan pernah alami adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tapi tidak untuk kali ini..

Mengunjungi beberapa tempat, bertemu dengan banyak orang, bertukar pikiran tentang banyak hal, dengan banyak kepala, dengan banyak kerangka dan pola pikir, dengan berbagai jenis manusia, dengan bermacam peristiwa, membuat saya semakin menyadari bahwa semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Menjadi sebuah lingkaran, menjadi sebuah tulisan bersambung, menjadi bab pengantar menuju bab lainnya, menjadi pintu koneksi ke ruang yang sebelumnya tidak pernah kita duga.

Kembali ke lamunan tadi, ada batu besar yang sebenarnya mengganjal bagi saya. Beberapa teman pernah berkata sebagai idealisme, tapi saya tidak yakin kalo itu adalah kosa kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Atau malah seorang kepala sekolah yang berjasa memborbardir kepala saya saat masih berseragam putih abu menyebut sifat saya dengan judul idealisme mati konyol.

Beri saya sedikit sisa paragraf lagi untuk mendeskripsikannya secara lebih konkret.
Jika berbicara dalam sudut manajemen, atau marketing, ada istilah yang bernama “product life cycle” yang secara garis besar, menyebutkan bahwa setiap merek, atau setiap produk memiliki siklus umur hidupnya. Dari awalnya launching, kemudian berkembang, mengalami masa jayanya atau fase laris manis, dan kemudian akan mengalami masa penurunan. Dan biasanya, para marketer yang menyadari hal ini pastinya akan melakukan sesuatu untuk memperpanjang masa hidup produknya. Mulai dari strategi promosi atau menciptakan diversifikasi dan product extension atau malah melakukan peremajaan merek.

Bagaimana dengan hidup manusia?

Mari kita tarik secara umum gambaran dan paradigma kita saat ini. Jika boleh dan bisa saya simpulkan, life cycle pada manusia adalah sebagai berikut: lahir, sekolah, bekerja, menikah, beranak pinak, pensiun, mati.

Thats it? Yup, thats it. Tentunya dengan berbagai macam bumbu dan cerita didalamnya. Ada yang salah? Tidak! Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi mari kita cermati. Alur yang seperti ini sudah turun temurun diajarkan, atau kalo boleh saya menyebut; di-propaganda oleh generasi yang lahir sebelum kita. “nak sekolah yang tinggi, biar bisa dapet kerjaan ditempat yang bagus, gaji gede, hidup enak, diliat calon mertua biar ga malu, bisa ngidupin pasangan hidup kamu..dan bla..bla..

Jika ditarik lebih panjang lagi, kita sedang bergumul dalam sebuah kotak, sebuah lingkaran, sebuah batasan yang tidak bisa dilanggar, tidak boleh dilewati, dan tidak boleh ditembus karena ada pagar bernama “normal” yang dilapisi duri berstempel “kewajaran” disana.

Ada seorang kawan yang terpaksa meninggalkan impiannya untuk menjadi rocker karena orang tuanya sudah bosan melihat bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah menghasilkan uang. Membuat saya bertanya, uang bukan segalanya, tapi tanpa uang kita bukan apa-apa. Belum lagi kotak sensitive bernama SARA yang menjadi tembok pembatas bagi seorang saudara untuk mematikan rasa sayangnya kepada mahluk beda kelamin yang menjadi peneman di masa mudanya. Menciptakan pertanyaan besar dikepala saya, apa artinya tulisan bhineka tunggal ika yang tergantung di kaki patung garuda yang bergelantungan gagah di depan kelas sedari SD dulu. Ada lagi, kejadian seorang sahabat yang diusir oleh orang tua gadis yang dikencaninya akibat status ekonomi dan sosial yang timpang yang membuat saya meyakini alasan kenapa banyak orang menyukai film-film bioskop karena happy ending hanya bisa terjadi dalam film. Atau cerita tentang seorang kenalan yang membunuh mimpinya menjelajah dunia karena kewajiban sebagai seorang lelaki tunggal dalam keluarganya, menuliskan keraguan dalam pemikiran saya bahwa terkadang kebebasan bukanlah sebuah pilihan.

Pemikiran yang klise mungkin. Karena hanya akan kembali menimbulkan pertanyaan lainnya; apa yang sebenarnya kita cari? Kehidupan sesuai dengan rumus baku “human life cycle”..??? atau mungkin secara iseng, kita bisa mulai mengganti pertanyaannya menjadi; “apa yang bisa membuat saya bahagia?

Tapi sayangnya, kadar bahagia menjadi sebuah ukuran yang tidak bisa distandarisasikan. Atau malah, karena tidak ada standar yang baku terhadap kebahagian manusia yang satu dengan yang lainnya itulah, maka dapat digunakan sebagai dasar dan pondasi bahwa kita memang tidak sama. Bahwa customize, menjadi berbeda, tidak biasa, adalah variabel yang dapat dipertimbangkan sebagai alat ukur yang wajar dan biasa. Dimana menjadi berbeda adalah hal yang biasa, dimana memilih hal-hal diluar pakem adalah sebuah kewajaran, dimana berjalan pada jalur yang tidak normal adalah sebuah kebebasan untuk menjadi bebas.

...

Dan sebelum tulisan klise dan tidak bermutu ini menjadi semakin buram dan mengambang, ada baiknya saya tutup dengan pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada beberapa orang yang pernah saya temui; “apakah anda bahagia? Apakah anda sudah puas dengan kehidupan anda saat ini?” Tidak banyak yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan spontan. Terutama ketika saya bertanya kepada seorang lelaki didepan cermin.



Minggu, 11 September 2011

Hal yang Menyebalkan!

Puas melahap berbagai summer movie yang telat berkunjung ke Indonesia, membuat beberapa minggusaya kemarin full dengan jadwal ke bioskop. Saking laparnya akan film-film box office, beberapa film berhasil membujuk saya untuk menonton film yang sama 2 kali. Lumayanlah, buat hiburan ditengah sumpeknya suasana kerja.

Dari sekian kali marathon bioskop kemaren, ada beberapa hal yang menggangu kenikmatan saya sebagai penonton, dan pada kesempatan kali ini ingin saya sharing. Kali-kali aja ada diantara pembaca blog ini yang juga mempunyai pemikiran dan perasaan senasib dengan saya hehehe..

1. TELAT. Ini yang pertama dan utama yang paling menyebalkan buat saya. Biasanya ada tiga penyebab yang paling umum. Pertama, jalanan macet. Apalagi yang terkenal dari ibukota selain kemacetannya?! Kedua, ga dapet parkir. Gada pantai, gada wisata alam, otomatis bikin hampir semua masyarakat ibukota maennya ke mall. Dan parahnya, bioskop mayoritas terletak di mall. Kejadian terakhir yang saya alami bersama seorang kawan, kami menghabiskan waktu hampir 45 menit hanya berputar-putar di areal parkir. Padahal, kami sudah menyediakan toleransi waktu 1 jam sebelum film dimulai. Alhasil waktu itu kami nekat nyari parkiran dipinggir jalan asal ga ketinggalan filmnya. Yang ketiga, nonton rame-rame dan ga berangkat bareng merupakan risiko terbesar keterlambatan masuk bioskop. Ini bukan barang baru. Semenjak di Jogja dulu pun, kalo udah nontonnya rame-rame bareng temen-temen, pasti aja ada satu ato dua ekor yang datengnya telat. Dan bagi saya, telat semenit, atau lima menit (meskipun baru nongol judulnya aja) udah bikin saya jadi naik darah. Seperti bayi yang haus tapi ga dapet susu (mudah-mudahan perumpamaannya nyambung).

2. MAKAN. Pop corn, roti, burger, dan minuman tentunya jadi pelengkap bagi beberapa orang untuk menonton. Tapi maaf saja buat para perokok, bukan mendiskriminasi, lebih baik nonton dirumah aja dengan DVD bajakan atau tahan dulu 2 jam untuk tidak merokok hehehe.. Disini saya bukan menyalahkan makanannya, tapi sangat menyebalkan kalo disebelah kita ada penonton yang makannya berisik. Mulai dari buka plastik roti (kresek-kresek), trus makannya juga berisik (krauk-krauk), trus minumnya juga kaya orang kehausan (slruuuuuuupppp..). Suara-suara seperti itu sangat ga enak buat dipadukan dengan efek dalam film yang keluar dari sound dalam bioskop. Ga matching! Untung juga cafe di bioskop ga menyediakan nasi padang.

3. NGOBROL. Tiap penonton punya gaya sendiri dalam menikmati film. Saya pernah menemukan penonton yang sibuk bercerita dengan kawan disebelahnya tentang alur cerita film menurut penerawangannya. Mungkin terobsesi menjadi seorang sutradara, dia sibuk dari awal hingga akhir film menjelaskan bagaimana alur cerita dalam film seharusnya terjadi dalam sudut pandangnya. Dan parahnya, kawannya pun punya style yang sama. Mereka terlihat bak seorang sutradara dan seorang penulis naskah yang sedang menjadi juri dalam festival film. Adalagi, dilain hari saya menemukan seorang penonton yang datang sendiri (okay, saya juga doyan nonton sendiri), seolah-olah sedang monolog dengan dirinya sendiri. “ini pasti begini, ntar penjahatnya pasti muncul pas begini, dia pasti dibunuh pas begini”, mulutnya sibuk menerangkan setiap scene film kepada dirinya sendiri. Terlebih lagi orang itu tepuk tangan sendiri pada saat sang jagoan dalam film beraksi dan menjerit histeris karena kaget. Damn!

4. HP. Please donk, silent or turn of your f-ing gadget pada saat nonton. Ngerti koq kalo jaga-jaga sapa tau ada panggilan darurat dari kerabat atau orang terdekat. Tapi kan masih ada nada getar. Kalopun mau dijawab, mending keluar dulu biar ga berisik. Bioskop itu tempat umum yang dinikmati banyak orang, pasti dapet pahala kalo mo menghormati kenikmatan penonton yang laennya. Lagipula, kan masih ada fasilitas pesan dalam gadget. Pesan sampai, dan ga berisik. Gadgetnya udah canggih jaman sekarang bung!

5. AC. Bisa saja menyebut saya anak kampung. Tapi saya pikir, bukan saya saja yang seringkali kedinginan pada saat dalam bioskop. Okay, memang ga disemua bioskop sih, tapi kadang saya jadi berpikir, apa pihak bioskop ga punya standarisasi settingan pendingin ruangan ya?! Kedinginan pada saat nonton bikin kenikmatan nonton jadi berkurang. Belum lagi dingin merupakan faktor perangsang buat mengumpulkan air seni diujung lubang dibawah sana. Dan menahan kencing menambah terganggunya kenikmatan menonton.

...

Yeah, begitulah hasil yang bisa saya rangkum dalam postingan kali ini. Kalo salah satu pembaca blog ini, ngerasa punya kebiasaan seperti salah satu dalam item diatas, mudah-mudahan kita ga pernah bertemu dalam satu theater yang sama dan menonton film yang sama pada waktu yang bersamaan hehe..

Picture: 123rf.com

Glanz

Tidak seperti sebelumnya, tapi menghembuskan asap untuk kali ini terasa lebih nikmat seperti diburu oleh rasa sesak karena tidak bisa bernafas. Apalagi dimulai dengan sapa sederhana dengan basa-basi usang digaris batas ingatan jaman purba.

Yang istimewa hanya kesulitan untuk kembali tidur dengan tenang. Entah mimpi, entah ingatan, semua sedikit buram. Serupa dan sama; tidak dapat dikendalikan!

Ini adalah bagian yang paling tidak menyenangkan.

Menengok kembali isi dompet. Siapa tau masih ada uang tersisa untuk membeli nyali yang sedari beberapa periode lalu hilang tanpa arti. Harusnya tidak seperti ini, karena sekuat apapun mencoba, hasil akhir sepertinya masih akan sama.

Mungkin bukan disini.

Mungkin bukan hari ini.

Tapi apa daya jika kabel hati dan kepala tidak bisa disambung lagi...

...

Coba ulangi sekali lagi”, kata hati

dan rasakan deritanya” sambut kepala


Senin, 05 September 2011

PRODUKSI DAN KENDALA FILM GOMAKASHI 2

Libur seminggu, sepertinya waktu yang cukup untuk bisa produksi film pendek lagi. Sebulan sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk menghubungi kembali kawan-kawan seperjuangan. Respon positif team semakin menyulut semangat saya untuk kembali berkarya. Meskipun beberapa dari kami terpencar mencari penghidupan diberbagai belahan nusantara, namun kesempatan ini menjadi momen untuk kami bisa sekedar kembali bernostalgia tentang hal-hal gila dimasa muda.

GOMAKASHI menjadi pilihan untuk diangkat kembali. Membuat sekuel dari film yang sudah pernah kami produksi adalah hal yang baru pertama kali kami lakukan (pengen ikut-ikutan style Hollywood yang sering bikin sekuel film-film mereka). Cerita dari Gomakashi 2 ini tidak jauh berbeda dengan Gomakashi 1. Masih mengadopsi ide dari film semacam Final Destination dan Ghost Ship. Namun yang berbeda adalah, kami mencoba untuk bereksplorasi pada beberapa hal.

( Broken Hearted Burning Panda, si boneka yang menjadi benang merah di Gomakashi 2)

Eksplorasi kali ini terletak pada dua hal; kamera, dan sound. Untuk kamera, adalah Yudi “Kupretz” sang DOP merangkap kameraman yang mengganti Canon XL1 dengan kamera DSLR Canon 60D. Dan keraguan kami atas pilihan untuk mengganti senjatanya terjawab sempurna. Ada beberapa kelebihan dengan menggunakan kamera DSLR ini sebagai ajang coba-coba. Pertama, kualitas gambar videonya ternyata tidak kalah dengan Canon XL1, selain itu, bobot kamera yang ringan menjadi sebuah keuntungan dalam pengambilan gambar. Praktis, proses take gambar menjadi lebih simpel dan mudah. Apalagi untuk film dengan genre thriller yang dipenuhi adegan kejar-kejaran, membantu moving dan goyangan kamera lebih mudah dilakukan. Namun sayangnya, karena ukurannya yang kecil, kadang scene yang membutuhkan tampilan gambar datar dan stabil agak sedikit sulit. Sulit karena kami memang tidak menggunakan tripod selama proses shooting berlangsung (trus, salah siapa..???!!) hehehe..

Untuk sound dan efek, jika pada Gomakashi 1 kami lebih banyak “menjarah” single dari band-band Indie Bali, seperti; Scared Of Bums, Nekromancer, dan Psychopatic, kali ini kami mencoba untuk mengisi efek dengan sound ciptaan sendiri. Menggandeng (atau lebih tepatnya “memaksa”) Pakde Lemon, sang keyboardist dari band Endium, seharian kami merepotkan bapak yang satu ini untuk bergelut dengan Roland-nya di studio pribadinya di daerah bilangan Sanur. Secara garis besar, sound untuk original soundtrack menggunakan salah satu single dari band Ripper Clown (kebetulan sang vokalis, Rahde, kami jajah ikut maen sebagai pemeran antagonis) yang di-remake dengan irama serupa dengan dentingan style music box, sedangkan efek isian pada beberapa scene, murni merupakan hasil kepala dan jemari dari Pakde Lemon. Okay, yang diluar dari perkiraan adalah; kami menghabiskan waktu seharian penuh untuk berjibaku dengan sound buatan sendiri. Ternyata lebih mudah membajak sound yang sudah ada ketimbang menciptakan sendiri!

...

Cerita yang menarik dari shooting kali ini adalah beberapa kendala baru yang kami hadapi (untuk kendala-kendala dalam proses produksi film independent, pernah saya bahas pada postingan disini dan disini), adapun beberapa kendala yang kami temui adalah sebagai berikut:

LOKASI DAN PERIJINAN. Sebenarnya ini masalah klasik untuk para moviemaker independent, tapi memang beginilah realitasnya. Pada intinya, kami membutuhkan lokasi berupa gedung tua dan bertingkat untuk scene bunuh-bunuhan. Praktis, team yang berlokasi di Denpasar segera hunting selama 2 minggu. Kendalanya adalah; tempat seperti itu sangat sulit untuk bisa ditemui pemilik atau pengelolanya. Kalaupun ada, beberapa tempat masih kurang dari visualisasi kami. Akhirnya, yang terbersit adalah kembali mengunjungi lokasi pada Gomakashi 1; TFB (Taman Festival Bali). Hari pertama sampai di Denpasar, yang saya lakukan adalah langsung meluncur ke TFB, berharap bahwa pihak pengelola yang saya hubungi 4 tahun lalu masih eksis disana. Dan kabar buruknya, pihak pengelola sudah berpindah tangan, dan kabar yang lebih buruk lagi adalah, pihak pengelola menyerahkan sepenuhnya masalah ijin dan biaya perijinan kepada security yang bertugas disana. Yang terbersit pertama kali dalam kepala saya adalah; saya akan dipalak dengan biaya ratusan ribu oleh mereka. Ternyata dugaan saya salah, saya tidak dipalak ratusan ribu, tapi dipalak senilai 2,5 juta untuk 2 hari! Hal yang bisa dilakukan adalah mencari alternatif lokasi lainnya. Satu pelajaran yang bisa saya tarik kali ini adalah, sediakan waktu yang banyak, dan selalu siapkan rencana cadangan untuk mencari lokasi. Semakin banyak alternatif lokasi semakin baik, hal ini untuk menjaga kesulitan kita sebagai moviemaker indie yang terbatas modal untuk mengurus perijinan dan biayanya.

( lokasi yang kami gunakan dalam pengambilan gambar )

JADWAL PRA, PRODUKSI, DAN PASCA. Beberapa hari setelah meeting via phone dengan kameraman dan script writter, segera saja jadwal dibuat dan disosialisasikan oleh Erni, sang Script writter. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Proses pra produksi memakan waktu 2 minggu, proses produksi memakan waktu 2 hari, tapi yang jadi masalah adalah proses pasca produksi. Hasil eksplorasi atas sound efek membuat jadwal yang tersusun rapi menjadi kacau. Rencana editing yang harusnya bisa kelar dalam 2 hari jadi molor. Seringkali kita terjebak bahwa dalam proses pembuatan film indie, porsi waktu terbanyak adalah pada saat pengambilan gambar. Namun pada prakteknya (yang kami alami), ada baiknya juga memberikan toleransi dan porsi waktu yang lebih banyak pada proses pra produksi dan pasca produksi. Mungkin terdengar tidak penting, tapi pra dan pasca memegang peranan penting dalam terciptanya sebuah film. Contoh sederhana; pada saat pra produksi, saya pribadi lebih menyukai untuk casting pemain yang memang memiliki karakter asli seperti karakter dalam naskah, karena akan lebih mudah bagi pemeran tersebut untuk memerankan perannya. Masalahnya, mencari orang yang sesuai dengan karakter pada naskah membutuhkan waktu! Jadi, sediakan juga waktu lebih banyak untuk pra produksi. Kemudian, pada saat proses pasca produksi, hal yang sama juga dapat terjadi. Contohnya seperti yang kami alami tempo hari. Siapa sangka bahwa proses pengisian sound efect bisa memakan waktu seharian?! Belum lagi, pada saat proses editing kami baru sadar bahwa ada beberapa take yang lupa kami ambil pada beberapa scene. Hehehe, karena itulah, sediakan toleransi dan porsi waktu yang lebih panjang untuk pasca produksi. Karena hal-hal kecil yang kita lupakan pada saat pengambilan gambar, baru ketahuan pada saat proses editing.

TEMUKAN SEORANG PROPERTY MASTER! Property menjadi hal yang sering kita sepelekan. Meskipun, pada saat bedah naskah kita sudah dapat memperkirakan benda-benda apa saja yang harus kita siapkan di lokasi, namun lebih baik lagi kalo kita bisa menetapkan satu orang dengan dua atau tiga orang sebagai team khusus untuk menyiapkan segala property. Lebih bagus lagi jika orang tersebut bisa langsung membuat setting lokasi dan menempatkan property pada tempatnya. Dalam kasus Gomakashi 2 ini, seperti biasa, property menjadi tanggungan semua crew dan pemain. Tidak dipungkiri bahwa dalam prosesnya, banyak dari kami yang akhirnya kelupaan membawa property, dampaknya: waktu untuk take gambar jadi terbuang sia-sia cuman buat mencari dan melengkapi property lagi. Selain itu, dengan adanya property master, beberapa property dapat dieksplorasi lebih dulu sebelum pengambilan gambar. Contoh; pada Gomakashi 1 kami mengalami kesulitan untuk membuat darah. Praktis pada Gomakshi 2 ini, kami tidak mau hal yang sama terulang kembali. Oleh sebab itu, kami jadi lumayan fokus untuk eksplorasi cara membuat darah. Pastinya dengan adanya seorang property master, hal-hal seperti itu akan menjadi lebih mudah.

Yeah, sekali lagi dan lagi-lagi postingan tentang film indie saya tutup dengan kalimat ini: independent itu, yang penting semangatnya! Semangat aja udah 80% cukup untuk membuat sebuah karya menjadi nyata ditengah kendala dan keterbatasan!

Selamat berkarya!

( versus Erni, sang penulis naskah merangkap property master, meeting pra produksi )

( Yudi "Kupretz" sang DOP sekaligus kameraman merangkap editor )

( ini take scene film thriller, bukan film tentang sexology )

( Zesa, pemeran utama di Gomakashi 2 )

( Rahde, vokalis Ripper Clown yang kami bajak untuk berperan sebagai Psycho)

( Proses produksi - 1 )

( Proses produksi - 2 )


okay,
tengkyu berat buat kawan-kawan seperjuangan yang masih menyempatkan diri untuk turut berpartisipasi dalam produksi kali ini.
Semoga ini bukan yang terakhir hehehe..


Denpasar, sore itu..

Ini cerita di satu sore, waktu saya sedang ke bengkel buat ngebedah “Superman”; si mobil kesayangan Ibu yang baru saja memperingati ulang tahun yang ke 18. Disana saya bertemu dengan para mekanik yang mungkin usianya terpaut kurang lebih 4-5 tahun dibawah saya. Sementara tangan mereka sibuk dengan segala kabel, obeng dan tang, bibir mereka juga sibuk bercerita tentang komplain terhadap jam kerja. Saya hanya tertawa, alih-alih protes, saya malah melihat itu sebagai gurauan canda diantara mereka. Satu yang menarik saat itu, seorang mekanik yang sedang sibuk membongkar bagian belakang mobil melemparkan pertanyaan renyah kepada saya. Kurang lebih begini alur pembicaraan kami;

tinggal dimana Bli?
“oh, saya tinggal di gang sebelah”
kerja dimana
“kebetulan lagi merantau ke ibukota”
ooohhh.. saya juga pernah kerja disana sekitar 2 tahun
“trus, kenapa pulang?”
hehe, ibu saya Bli.. Ibu saya yang sudah meninggal pernah datang ke mimpi saya, beliau nyuruh saya untuk pulang..
“ooohh.. Ibu udah meninggal?”
iya, sekitar tahun 2005, waktu saya baru lulus SMP. Setelah Ibu meninggal, saya jadi ga bener. Sedih banget Bli.., dan minuman keras menjadi pelarian saya waktu itu. Tiap hari mabuk.. Sampai akhirnya saya putuskan untuk lari ke suatu tempat yang jauh untuk membangun hidup yang baru
“trus, ke ibukota ama siapa? Ada saudara disana?”
engga ada Bli, nekat aja sendiri
(nekat ama gila bedanya tipis ya?!)
“sekarang masih sering pulang ke kampung?”
lumayan Bli, biasanya sebulan pasti dapat pulang minimal sekali, biasa nengoin sekalian ngasi uang jajan buat adik-adik saya yang masih sekolah. Masih ada 2 adik kembar yang kelas 5 SD
“adik-adik tinggal dikampung sama bapak?”
engga Bli, sama Om
“Lha, bapak kemana?”
baru aja meninggal tahun 2009 yang lalu Bli

Dialog kami terhenti disitu. Atau lebih tepatnya, saya menghentikan dialog kami. Kepala saya buntu, lidah saya kaku, bibir saya kelu. Saat mencoba berempati, saya biarkan otak saya menyerap dan me-rewind sejenak beberapa detik tik-tak-an dialog kami. Disana kepala saya merefleksikan arti dari sebuah kata “yatim piatu”.

Ayah saya meninggal ketika saya kelas 2 SD. Atau mungkin kelas 1 SD. Saya kurang dapat mengingat dengan jelas kejadian waktu itu. Untuk selanjutnya, Ibu membesarkan dan membiayai saya dan kakak seorang diri. Hingga bangku SMA, saya masih sering iri ketika ada kawan yang mengambil rapor ke sekolah bersama ayahnya, atau ketika kawan-kawan sedang membanggakan ayahnya masing-masing. Hingga satu titik, saya merasa masih amat sangat luar biasa beruntung mempunyai dan dilahirkan dari rahim seorang Ibu seperti Ibu saya. Seorang Ibu liberal yang memberikan kami tanggung jawab atas arti dari sebuah kebebasan.

Dan bercermin pada dialog kami tadi, sungguh tidak pernah terpikirkan bagaimana atau apa jadinya saya jika ditempatkan pada kondisi yang serupa dengan mekanik tersebut. Dia kehilangan orang yang dikasihi, satu fase dalam hidupnya rusak oleh minuman keras, fase selanjutnya kehilangan tempat untuk pulang, dihantui oleh ingatan, dan sekarang, diumur yang masih terbilang muda, mungkin seluruh waktunya ia habiskan agar bisa membiayai kedua adik kembarnya yang masih kelas 5 SD. Dan parahnya, kedua adiknya sudah yatim piatu sedari kecil.

Mungkin diluar sana ada yang lebih tragis dari yang saya temui sore itu. Tapi itu sudah cukup membuat saya merasa bersyukur atas apa yang masih saya miliki dan apa yang masih bisa saya dapatkan hingga saat ini.

Sekali lagi, hidup mengajarkan kita bukan dengan kata-kata,
dan mungkin memang begitu cara kerjanya..

Selasa, 26 Juli 2011

REWIND


“stop.., right there where you stand, can we start again and write this book just one more time. Gone are the days that we used to know, when I thought that they all would last forever, and I see what you mean, when it all falls apart, nothing really seems to make it better..
-Swirl 360-


Akhirnya bisa sekedar kembali menyepi ditengah deretan deadline tugas, tumpukan kerjaan yang tidak pernah terlihat ujungnya, serta target pembuktian harga diri. Semua seperti roda. Untungnya, masih ada waktu untuk sekedar keluar dari arusnya, dan mengintip sesekali apa saja yang sedang berputar didalamnya. Nyaris sama dengan minuman keras, terkadang aliran waktu membuat kita lupa pada apa yang sudah berlalu hingga saat jackpot, tersadar bahwa semua sudah terlambat. Nikmat, dan terlambat!

Berbicara tentang waktu, beberapa periode lalu, saya kehilangan seorang sahabat yang menghilang begitu saja. Sempurna tanpa bekas, tanpa jejak, dan tanpa bisa dilacak. Ada juga sahabat lainnya yang sedari lima tahun belakangan ini, dimana perjumpaan kami hanya sekali setahun, tiba-tiba muncul membawa berita akan menikah dan menetap ke negeri seberang, yang otomatis menciptakan sebuah tembok besar bagi kami untuk dapat mengulang hal-hal gila di masa muda.

Unik dan menarik. Betapa aliran waktu dapat mengubah segalanya. Meskipun seringkali kita berharap bahwa hal-hal yang menyenangkan tidak akan pernah berakhir, atau hal-hal yang buruk segera berlalu, diminta ataupun tidak, waktu akan jalan terus.

Saya pernah merasa kehilangan. Semua orang pasti pernah. Kehilangan sahabat, kehilangan kawan untuk bercerita, kehilangan tempat untuk pulang, kehilangan binatang peliharaan, ataupun kehilangan kesempatan. Namun sayangnya, sedikit dari kita yang bisa menyadari bahwa hari itu, detik itu adalah saat terakhir untuk selamanya. Saya pernah mengunjungi satu tempat, tempat dimana saya dan beberapa orang sahabat lainnya berjanji untuk kembali mengunjungi tempat itu satu hari nanti. Dan tanpa kami sadari, hari dimana kami membuat janji, adalah hari terakhir kami bisa berada disana secara bersama-sama. Kenapa? Karena mungkin kami tidak mengetahui bahwa waktu dapat mengubah segalanya. Waktu mengubah salah satu dari kami membangun keluarga, waktu mengubah banyak dari kami untuk sibuk bekerja, waktu mengubah hampir semua dari kami untuk berpacu melawan umur sementara impian dan cita-cita tentang kebebasan belum pernah terwujud dalam bentuk yang absolute.

Seandainya kami tahu, mungkin hari itu, waktu itu, detik itu, kami tidak akan pernah berhenti melingkarkan tangan ditengah megahnya api unggun. Mungkin kami akan lebih meneguhkan hati dan menyiapkan mental bahwa hari itu adalah hari terakhir kami bisa menikmatinya.
Mungkin banyak dari kita yang saat ini beruntung menemukan orang-orang yang kita butuhkan masih ada disaat pagi datang. Mungkin hampir semua dari kita masih dengan sempurna melihat cahaya matahari dengan dua mata. Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita bisa menikmatinya? Mungkin besok, semua berubah tanpa pemberitahuan.

Saya sering menuntut, bahwa setiap kenangan bisa diulang, mencari pendukung disana-sini untuk membuktikan hipotesa yang saya anut dapat terwujud. Namun pada satu titik, propoganda tersebut terpatahkan dengan segumpal kecil kamus EYD. Disana, saya temukan secara harfiah kata Kenangan; artinya untuk dikenang. Jika bisa diulang, namanya; ulangan. Dan kabar buruknya, ulangan hanya kita temui pada saat jaman sekolah dulu, persis ketika ibu guru masuk dan mengumumkan hari ini ulangan untuk menguji dan mengulang kembali daya ingat kita.

...

Selagi masih ada waktu, lari dan temui semua kesempatan yang sudah terbuang. Kegagalan sebanyak lima kali, akan menuai kesuksesan pada tahap yang keenam. Yeah, risiko gagal pasti ada, paling tidak, akan kita ketahui setelah mencoba, daripada tidak mencoba sama sekali. Kita tidak pernah tahu, kapan saat terakhir kita untuk tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir, kesempatan ini adalah kesempatan terakhir, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir. Dan bisa saja, ini adalah tulisan terakhir yang bisa saya tulis dalam blog ini, mungkin saja, dan bisa saja terjadi seperti itu. Tapi satu yang pasti, waktu dapat mengubah banyak hal.

Selamat bermain dengan waktu!


"we only got 86.400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away. We gotta tell them that we love them while we got the chance to say, gotta live like we dying..!"
-The Script-

Jumat, 04 Februari 2011

YOU ARE YOUR HISTORY


click
Handphone di tangan kanan, saya tutup dengan satu tarikan nafas panjang. Bulan diatas sana seperti kembali membukakan kotak hitam tentang banyak ingatan tanpa jawaban. Jika menarik kembali cerita dari beberapa tahun yang lalu, saya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan hobi baru: LARI..! Bukan olahraga, tapi hobi melarikan diri. Ketika menghadapi kematian, kekalahan, dan kesakitan, hal yang sanggup saya lakukan hanya lari, karena ketika dada kiri saya mulai meremas, kabel yang tersambung dari hati menuju otak secara spontan memberikan sinyal bahwa saya harus lari. Sebab dengan terus berlari, kemungkinan rasa sakit tidak akan pernah mengejar, mendekati, apalagi terus bersemayam dalam diri.

Seorang kerabat dulu pernah berkata; “temukan setiap jawaban dengan hati. Namun ketika hati tidak mampu, maka waktu pasti bisa..”. Berpegang pada hal tersebut, saya semakin menemukan bahwa orang-orang terdekat seringkali bukanlah wadah yang tepat untuk mencari jawaban. Umur berkorelasi positif dengan tumpukan masalah. Terima kasih, karena memang hidup mengajarkanmu bukan dengan kata-kata. Sepertinya memang begitu cara kerjanya.

Akhirnya, puas berpikir sendiri tanpa jawaban, saya memutuskan untuk kembali ke meja kerja, padahal waktu saat itu sudah berputar hampir mendekati pukul 22.30. Begitulah yang saya lakukan. Membenamkan diri pada tumpukan-tumpukan pekerjaan untuk mengalihkan ingatan-ingatan liar yang tidak pernah lelah berkeliaran dikepala. Namun, begitu hendak berbelok memasuki ruang kerja, muncul rekan kerja baru yang belum saya kenal lama. Seorang anak band, dan dimata saya, dia murni playboy tanpa tampang berdosa.

Dan disinilah kami, duduk berbasa yang sudah basi. Berdialog tentang hal-hal yang renyah. Sampai tiba-tiba dia berbicara tentang sesuatu yang membuat saya diam; “hal yang paling menyakitkan bukan karena kita ditinggalkan atau meninggalkan. Namun ketika tidak bisa bersatu..”, kemudian dia bercerita tentang sejarah berkali-kali hubungannya kandas hanya karena masalah perbedaan, yang menyebabkannya mulai kebal dan tidak terlalu berpikir serius untuk memulai sebuah hubungan. Jalani saja, katanya. Meskipun alur dialog sebelumnya tidak ada mengarah kesana, tapi saya berusaha berperan menjadi seorang pendengar yang baik. Yeah, hitung-hitung bisa jadi bahan cerita buat bikin film pendek hehe..

Pagi, keesokan harinya, kebetulan saat itu, saya sedang tugas event musik. Sembari memastikan bahwa semua materi promosi dan tenaga penjualan sudah berada pada posisinya masing-masing, saya dijulurkan segelas air mineral oleh seorang boss, dan itu artinya, saya harus duduk disebelahnya. Dialog dan cerita pun dimulai. Dan sekali lagi, saya masih berperan sebagai seorang pendengar yang baik. Preambule dimulai dari bagaimana boss saya memulai kariernya benar-benar dari seorang kuli dan pekerja serabutan. Ia tidak pintar, namun dia selalu menunjukkan bahwa ada satu nilai yang bisa dia jual; kepercayaan dan niat untuk bekerja. Di mata saya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang dengan penampilan bajingan seperti dia pernah memiliki jaman susah! Seorang yang idealis, begundal yang masih mempunyai nilai baik dalam hatinya. Yeah, paling tidak orang-orang seperti ini lebih berharga dibandingkan para pejabat negara yang memanfaatkan uang rakyat dengan segudang kepintarannya.



Hingga kesimpulan sementara, saya menemukan bahwa seorang manusia terbentuk karena sejarahnya. Okay, saya bukan orang dari ilmu psikology, dan mungkin hal seperti ini sudah secara umum diketahui. Namun ada garis tebal yang sebenarnya dapat kita hubungkan, dimana karakter seseorang di masa ini, di saat ini, sebagian besar (atau malah keseluruhan) terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup yang mereka dapatkan sebelumnya. Bagaimana mereka memandang hidup, bagaimana cara mereka menjalani hidup, sampai pada pilihan-pilihan hidup yang mereka pilih. Terlepas pada persoalan apakah mereka bangkit atau malah terperosot semakin dalam. Itu bebas. Setiap orang punya gaya sendiri untuk menentukan hidupnya.

Tapi, satu hal terpenting yang saya dapati adalah, terkadang, Tuhan mengirimkan jawaban melalui orang-orang yang tidak kita duga, mungkin bukan keluarga kita, mungkin bukan sahabat kita, namun orang-orang yang tidak pernah masuk dalam “daftar orang kepercayaan” kita. Bisa jadi, itu sebabnya bumi tidak diciptakan kotak, untuk mengajarkan bahwa dunia bergerak tanpa batas, dan setiap manusia yang diciptakan pasti ada gunanya.

Bisa jadi seperti itu, atau bisa jadi kepala saya yang sudah semakin rusak akibat virus-virus ingatan hehe..


Selasa, 16 November 2010

THIS IS THE WAR



Saya masih ingat ketika duduk di semester 3 bangku kuliah, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Philip Kotler melalui buku marketingnya, yang kemudian disanalah saya menemukan satu istilah berjudul “Positioning” yang waktu itu menjadi kata kunci bagi saya untuk berkoar-koar sok tahu dalam setiap diskusi mengenai marketing, baik dalam kelas maupun diluar kelas. Dan dari sana juga awal perkenalan saya kemudian dengan Jack Trout, salah satu founding father dari ilmu “Positioning”. Satu tulisan dari bukunya yang masih saya ingat adalah; “perang yang sebenarnya bukanlah didalam pasar, namun dalam kepala konsumen”.

Namun yang menarik saat kita berbicara tentang besaran kata “perang”, adalah tentang bagaimana merumuskan strategi dan taktik perusahaan (ataupun merek) didalam mengatasi faktor-faktor yang mempengaruhi, baik secara langsung maupun tidak langsung didalam lingkaran persaingan itu sendiri. Sebagai contoh saja, Michael Porter yang merumuskan strategi perang dalam kompetisi pasar dengan “Five Forces”-nya yang menjelaskan faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam menghadapi persaingan.

Jika ditarik kembali kedalam sejarah, kehidupan manusia memang menyukai peperangan. Ambil saja dari jaman Rama versus Rahwana, Pandawa versus Kurawa, Hitler dalam perang dunia kedua, sampai Bush versus Saddam. Benang merahnya adalah perang dapat menjadi sebuah pengisi waktu dan menciptakan lapangan kerja. Lihat saja sekarang; perusahaan merekrut begitu banyak tenaga-tenaga muda, otak-otak jenius, dan jiwa-jiwa loyal untuk men-support usaha mereka dalam usaha mengalahkan kompetitornya dalam pertempuran di pasar. Dan menariknya lagi, kita dibayar untuk itu!



Tentunya sebagai prajurit yang berperan serta dalam peperangan, ada baiknya kita membekali diri dengan senjata. Secara kacamata orang awam dan sok tahu, saya ingin sekedar berbagi tentang hal-hal yang mungkin bisa menjadi senjata bagi kita.

1. Ketahui posisi kita dan pesaing
Ibaratnya peta dan kompas, saat memulai berperang, adalah sebuah kewajiban untuk menyadari dimana kita saat ini, dan bagaimana pergerakan kompetitor dalam pasar. Hal yang paling mudah untuk mengetahuinya adalah melalui informasi market share. Dari informasi tersebut, kita akan tahu apakah posisi kita masih sama, menang, atau kalah dengan kompetitor. Pengetahuan tentang posisi ini akan menjadi sebuah titik awal untuk merumuskan strategi (senjata) yang akan digunakan untuk membantai kompetitor. Apakah frontal (tembak membabi buta), spesifik pada satu target konsumen (sewa snipper) atau gerilya memasuki teritorial kompetitor secara sembunyi-sembunyi.

2. Siapa konsumen kita?
Anggap saja “Dewi Sita” dalam perang Rama versus Rahwana akan berubah nama menjadi; “Konsumen” dalam perang kita versus kompetitor. Merekalah tujuan akhir dari perusahaan. Merekalah penentu masa depan perusahaan. Atau secara gamblang bisa dikatakan, merekalah sumber gaji kita setiap bulannya dan sumber THR kita setiap tahunnya. Awali dengan menentukan siapa konsumen yang akan kita layani. Bagaimana karakteristik mereka. Dan apa saja yang mereka inginkan agar mereka mau untuk memilih perusahaan (atau merek) kita dibandingkan kompetitor. Professor marketing saya pernah berkata: “market is existence and potential customer” yang berarti bahwa perusahaan harus menyadari sejak awal agar memilih untuk memasuki wilayah tempur yang memiliki banyak konsumen, dan memiliki daya beli. Percuma saja jika banyak konsumen tapi tanpa daya beli, dan agak kurang optimal jika konsumen memiliki daya beli namun secara kuantitas kurang maksimal.

3. Amunisi yang kita miliki
Setelah mengetahui posisi dan konsumen kita, tentukan senjata yang akan kita gunakan. Amunisi disini dapat diibaratkan dengan merek (atau produk) yang bisa kita jual kepada konsumen. Apakah merek tersebut secara kualitas lebih baik dibandingkan merek kompetitor? Apakah secara harga lebih terjangkau oleh konsumen? Apakah ada nilai diferensiasi yang mengharuskan konsumen untuk lebih memilih merek kita daripada kompetitor? Atau ada nilai-nilai lain yang dapat menjadi sebuah keunggulan tersendiri untuk mengalahkan merek kompetitor didalam pasar. Selain itu, senjata yang harus disiapkan adalah armada penjualannya. Para prajurit yang nantinya akan menjadi pasukan garis depan merupakan penentu dan penghubung langsung antara perusahaan dengan konsumen. Pastikan bahwa para prajurit-prajurit tersebut adalah orang-orang terbaik dengan kemampuan terbaik mereka. Asset ter-vital perusahaan adalah SDM yang ada dalam perusahaan itu sendiri!

4. Memaksimalkan daya tempur
Ketika merek (atau produk) kita sudah mulai penetrasi kedalam pasar, perusahaan dapat menggenjot penjualan dengan memastikan bahwa saluran distribusi yang terbentuk didalam area pertempuran tersebut sudah meng-cover seluruh area pertempuran. Mari kita lihat merek handal seperti Coca-Cola atau spare part Honda yang menekankan bahwa produk mereka harus ada dimanapun dan kapanpun! Hal ini adalah untuk mengantisipasi kecenderungan brand switching konsumen ketika produk tersebut tidak ada dalam outlet. Banjiri pasar dengan produk kita. Sebarkan secara luas merek perusahaan agar konsumen dimanapun dan kapanpun dapat melihat bahwa kita eksis berpartisipasi dalam peperangan dan selalu ada untuk melayani konsumen! Untuk mendukung keberadaan merek (atau produk) kita, genjot lagi dengan strategi-strategi promosi. Iklan, direct selling, personal selling, telemarketing, diskon, minimal pembelian, bonus pembelian, pembinaan pelanggan, event, dan strategi-strategi promosi lainnya. Jangan sampai kompetitor melihat kita santai dan seakan-akan memberikan ruang gerak dan kesempatan bernafas untuk mereka! Kita adalah pejuang yang sedang sibuk berperang di medan pertempuran!!!

Yeah, secara gampang dan sederhana kurang lebihnya adalah seperti itu (sekali lagi dari kacamata saya sebagai orang awam dan sok tahu). Meskipun, secara teknis sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya seperti kebijakan dan peraturan pemerintah, kondisi ekonomi secara makro, kondisi politik, dan hal-hal lainnya. Namanya juga perang, memang dibutuhkan kecepatan dan aggressivitas tingkat tinggi untuk segera mengatur ulang strategi dan me-reload amunisi agar tidak ditendang keluar dalam medan pertempuran.

Selamat berperang!

REMEMBER ME…

Saya lupa tanggal pastinya, hanya saja waktu itu kebetulan saya diajak oleh salah satu boss untuk ikut hadir dalam rangka event di sebuah café di bilangan Cilandak Town Square. Eventnya sendiri merupakan event rutin yang menggandeng sebuah radio lokal ibukota. Di satu sesi, boss saya sempat menyinggung lengan saya dan berkata bahwa band yang sebentar lagi naek ke panggung adalah duo yang luar biasa. Untuk membuktikan omongannya, saya memberikan perhatian yang maksimal untuk menyaksikan perform dari duo tersebut.

Setelah intro yang berasal dari perpaduan gitar akustik dan bass mengalun, suara jernih dan merdu mengalir melontarkan lirik dari lagu berjudul “Remember Me”:

“I walk alone in the beach (…..), and I don’t know which way to go,
I left my heart in the silent, but I should take it slow.
Now I go straight to the ocean, swimming and dancing in the sea,
Hey don’t worry I’ll find my way home, back to you and our family.

I’m trying to be strong, I’m here standing alone, but it’s time for me to face the future
I’m promise to come back and I hope that you remember me…

I stare the moon and thousands stars in the sky,
How wish I could see you now,
Hey don’t forget things we used talk about,
Love… Love… Love…

I’m trying to be strong, I’m here standing alone, but it’s time for me to face the future
I’m promise to come back and I hope that you remember me… (as yours)"



Baru lagu pertama digeber, saya langsung jatuh cinta dengan duo ini..!!!
Terperangah dengan musikalitas mereka, takjub dengan lirik-lirik lagu mereka, dan kagum sekaligus iri menyaksikan betapa serasinya mereka sebagai partner dalam musik dan pasangan sebagai suami istri. Nama duo tersebut adalah Endah’NRhesa.

Dan segera setelah selesai acara, saya langsung menohok, menusuk, menerobos, dan menembus kerumunan para ABG untuk ikut berebutan membeli CD Endah’NRhesa. Saking penasaran akibat jatuh cinta pada pandangan pertama, saya segera menyambar 2 CD album pertama (Nowhere To Go) dan album kedua (Look What We’ve Found) mereka. Dua minggu berikutnya, saya berkesempatan bertugas pada salah satu event blues nasional yang disponsori oleh perusahaan. Kabar baiknya adalah, Endah’NRhesa juga merupakan salah satu pengisi acara disana. Lengkap sudah kebahagiaan saya untuk dapat kembali menyaksikan perform mereka! Owh damn, I'm so in love with them..!!!

And honestly, their songs is quite good for people whose just write their own love story or people whose got breakin’ heart…