Libur seminggu, sepertinya waktu yang cukup untuk bisa produksi film pendek lagi. Sebulan sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk menghubungi kembali kawan-kawan seperjuangan. Respon positif team semakin menyulut semangat saya untuk kembali berkarya. Meskipun beberapa dari kami terpencar mencari penghidupan diberbagai belahan nusantara, namun kesempatan ini menjadi momen untuk kami bisa sekedar kembali bernostalgia tentang hal-hal gila dimasa muda.
GOMAKASHI menjadi pilihan untuk diangkat kembali. Membuat sekuel dari film yang sudah pernah kami produksi adalah hal yang baru pertama kali kami lakukan (pengen ikut-ikutan style Hollywood yang sering bikin sekuel film-film mereka). Cerita dari Gomakashi 2 ini tidak jauh berbeda dengan Gomakashi 1. Masih mengadopsi ide dari film semacam
Final Destination dan
Ghost Ship. Namun yang berbeda adalah, kami mencoba untuk bereksplorasi pada beberapa hal.

(
Broken Hearted Burning Panda, si boneka yang menjadi benang merah di Gomakashi 2)
Eksplorasi kali ini terletak pada dua hal; kamera, dan sound. Untuk kamera, adalah
Yudi “Kupretz” sang DOP merangkap kameraman yang mengganti Canon XL1 dengan kamera DSLR Canon 60D. Dan keraguan kami atas pilihan untuk mengganti senjatanya terjawab sempurna. Ada beberapa kelebihan dengan menggunakan kamera DSLR ini sebagai ajang coba-coba. Pertama, kualitas gambar videonya ternyata tidak kalah dengan Canon XL1, selain itu, bobot kamera yang ringan menjadi sebuah keuntungan dalam pengambilan gambar. Praktis, proses take gambar menjadi lebih simpel dan mudah. Apalagi untuk film dengan genre thriller yang dipenuhi adegan kejar-kejaran, membantu moving dan goyangan kamera lebih mudah dilakukan. Namun sayangnya, karena ukurannya yang kecil, kadang scene yang membutuhkan tampilan gambar datar dan stabil agak sedikit sulit. Sulit karena kami memang tidak menggunakan tripod selama proses shooting berlangsung (trus, salah siapa..???!!) hehehe..
Untuk sound dan efek, jika pada Gomakashi 1 kami lebih banyak “menjarah” single dari band-band Indie Bali, seperti;
Scared Of Bums,
Nekromancer, dan
Psychopatic, kali ini kami mencoba untuk mengisi efek dengan sound ciptaan sendiri. Menggandeng (atau lebih tepatnya “memaksa”) Pakde Lemon, sang keyboardist dari band
Endium, seharian kami merepotkan bapak yang satu ini untuk bergelut dengan Roland-nya di studio pribadinya di daerah bilangan Sanur. Secara garis besar, sound untuk original soundtrack menggunakan salah satu single dari band
Ripper Clown (kebetulan sang vokalis, Rahde, kami jajah ikut maen sebagai pemeran antagonis) yang di-remake dengan irama serupa dengan dentingan style music box, sedangkan efek isian pada beberapa scene, murni merupakan hasil kepala dan jemari dari Pakde Lemon. Okay, yang diluar dari perkiraan adalah; kami menghabiskan waktu seharian penuh untuk berjibaku dengan sound buatan sendiri. Ternyata lebih mudah membajak sound yang sudah ada ketimbang menciptakan sendiri!
...
Cerita yang menarik dari shooting kali ini adalah beberapa kendala baru yang kami hadapi (untuk kendala-kendala dalam proses produksi film independent, pernah saya bahas pada postingan
disini dan
disini), adapun beberapa kendala yang kami temui adalah sebagai berikut:
LOKASI DAN PERIJINAN. Sebenarnya ini masalah klasik untuk para moviemaker independent, tapi memang beginilah realitasnya. Pada intinya, kami membutuhkan lokasi berupa gedung tua dan bertingkat untuk scene bunuh-bunuhan. Praktis, team yang berlokasi di Denpasar segera hunting selama 2 minggu. Kendalanya adalah; tempat seperti itu sangat sulit untuk bisa ditemui pemilik atau pengelolanya. Kalaupun ada, beberapa tempat masih kurang dari visualisasi kami. Akhirnya, yang terbersit adalah kembali mengunjungi lokasi pada Gomakashi 1;
TFB (
Taman Festival Bali). Hari pertama sampai di Denpasar, yang saya lakukan adalah langsung meluncur ke
TFB, berharap bahwa pihak pengelola yang saya hubungi 4 tahun lalu masih eksis disana. Dan kabar buruknya, pihak pengelola sudah berpindah tangan, dan kabar yang lebih buruk lagi adalah, pihak pengelola menyerahkan sepenuhnya masalah ijin dan biaya perijinan kepada security yang bertugas disana. Yang terbersit pertama kali dalam kepala saya adalah; saya akan dipalak dengan biaya ratusan ribu oleh mereka. Ternyata dugaan saya salah, saya tidak dipalak ratusan ribu, tapi dipalak senilai 2,5 juta untuk 2 hari! Hal yang bisa dilakukan adalah mencari alternatif lokasi lainnya. Satu pelajaran yang bisa saya tarik kali ini adalah, sediakan waktu yang banyak, dan selalu siapkan rencana cadangan untuk mencari lokasi. Semakin banyak alternatif lokasi semakin baik, hal ini untuk menjaga kesulitan kita sebagai moviemaker indie yang terbatas modal untuk mengurus perijinan dan biayanya.

( lokasi yang kami gunakan dalam pengambilan gambar )
JADWAL PRA, PRODUKSI, DAN PASCA. Beberapa hari setelah meeting via phone dengan kameraman dan script writter, segera saja jadwal dibuat dan disosialisasikan oleh
Erni, sang Script writter. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Proses pra produksi memakan waktu 2 minggu, proses produksi memakan waktu 2 hari, tapi yang jadi masalah adalah proses pasca produksi. Hasil eksplorasi atas sound efek membuat jadwal yang tersusun rapi menjadi kacau. Rencana editing yang harusnya bisa kelar dalam 2 hari jadi molor. Seringkali kita terjebak bahwa dalam proses pembuatan film indie, porsi waktu terbanyak adalah pada saat pengambilan gambar. Namun pada prakteknya (yang kami alami), ada baiknya juga memberikan toleransi dan porsi waktu yang lebih banyak pada proses pra produksi dan pasca produksi. Mungkin terdengar tidak penting, tapi pra dan pasca memegang peranan penting dalam terciptanya sebuah film. Contoh sederhana; pada saat pra produksi, saya pribadi lebih menyukai untuk casting pemain yang memang memiliki karakter asli seperti karakter dalam naskah, karena akan lebih mudah bagi pemeran tersebut untuk memerankan perannya. Masalahnya, mencari orang yang sesuai dengan karakter pada naskah membutuhkan waktu! Jadi, sediakan juga waktu lebih banyak untuk pra produksi. Kemudian, pada saat proses pasca produksi, hal yang sama juga dapat terjadi. Contohnya seperti yang kami alami tempo hari. Siapa sangka bahwa proses pengisian sound efect bisa memakan waktu seharian?! Belum lagi, pada saat proses editing kami baru sadar bahwa ada beberapa take yang lupa kami ambil pada beberapa scene. Hehehe, karena itulah, sediakan toleransi dan porsi waktu yang lebih panjang untuk pasca produksi. Karena hal-hal kecil yang kita lupakan pada saat pengambilan gambar, baru ketahuan pada saat proses editing.
TEMUKAN SEORANG PROPERTY MASTER! Property menjadi hal yang sering kita sepelekan. Meskipun, pada saat bedah naskah kita sudah dapat memperkirakan benda-benda apa saja yang harus kita siapkan di lokasi, namun lebih baik lagi kalo kita bisa menetapkan satu orang dengan dua atau tiga orang sebagai team khusus untuk menyiapkan segala property. Lebih bagus lagi jika orang tersebut bisa langsung membuat setting lokasi dan menempatkan property pada tempatnya. Dalam kasus Gomakashi 2 ini, seperti biasa, property menjadi tanggungan semua crew dan pemain. Tidak dipungkiri bahwa dalam prosesnya, banyak dari kami yang akhirnya kelupaan membawa property, dampaknya: waktu untuk take gambar jadi terbuang sia-sia cuman buat mencari dan melengkapi property lagi. Selain itu, dengan adanya property master, beberapa property dapat dieksplorasi lebih dulu sebelum pengambilan gambar. Contoh; pada Gomakashi 1 kami mengalami kesulitan untuk membuat darah. Praktis pada Gomakshi 2 ini, kami tidak mau hal yang sama terulang kembali. Oleh sebab itu, kami jadi lumayan fokus untuk eksplorasi cara membuat darah. Pastinya dengan adanya seorang property master, hal-hal seperti itu akan menjadi lebih mudah.
Yeah, sekali lagi dan lagi-lagi postingan tentang film indie saya tutup dengan kalimat ini: independent itu, yang penting semangatnya! Semangat aja udah 80% cukup untuk membuat sebuah karya menjadi nyata ditengah kendala dan keterbatasan!
Selamat berkarya!

( versus
Erni, sang penulis naskah merangkap property master, meeting pra produksi )

( ini take scene film thriller, bukan film tentang sexology )

(
Zesa, pemeran utama di Gomakashi 2 )

( Rahde, vokalis
Ripper Clown yang kami bajak untuk berperan sebagai Psycho)

( Proses produksi - 1 )

( Proses produksi - 2 )
okay,
tengkyu berat buat kawan-kawan seperjuangan yang masih menyempatkan diri untuk turut berpartisipasi dalam produksi kali ini.
Semoga ini bukan yang terakhir hehehe..